Header Ads

Semangat Kartini di Lereng Bawakaraeng, Tiga Bocah Asal Sinjai Tunjukkan Keberanian Sejak Dini

SINJAI — Peringatan Hari Kartini tahun ini diwarnai kisah inspiratif dari tiga bersaudari asal Kabupaten Sinjai yang berhasil menapaki jalur pendakian Gunung Bawakaraeng. Di tengah kabut tebal dan udara dingin pegunungan, langkah kecil mereka menjadi simbol keberanian anak-anak sejak usia dini.

Ketiga bocah tersebut adalah Nafeeza Prilia Randa (8), Damara Prilia Randa (6), dan si bungsu Zerina Alfathunnisa Randa (4). Meski masih sangat muda, mereka memilih menjelajah alam dan menaklukkan jalur terjal yang menuntut kekuatan fisik serta mental.

Pendakian yang mereka jalani bukan sekadar perjalanan biasa. Setiap langkah menjadi pelajaran tentang kesabaran, ketangguhan, dan semangat pantang menyerah. Saat kelelahan, mereka beristirahat. Ketika jalur terasa sulit, mereka saling menunggu dan melanjutkan perjalanan bersama.

Ketiganya merupakan putri dari pasangan Rudy Gunawan dan Nurfaidah Maknun. Orang tua mereka memberikan ruang bagi anak-anaknya untuk tumbuh mandiri melalui pengalaman di alam terbuka. Pola asuh tersebut dinilai berperan besar dalam membentuk karakter berani dan tangguh sejak dini.

Nilai yang tergambar dari perjalanan ini menunjukkan bahwa keberanian tidak hadir begitu saja, melainkan tumbuh dari kepercayaan dan kesempatan yang diberikan kepada anak.

Kisah ini menjadi semakin bermakna karena bertepatan dengan Hari Kartini, yang identik dengan semangat emansipasi perempuan. Jika selama ini Kartini sering diperingati secara seremonial, perjalanan tiga bersaudari ini menghadirkan makna nyata tentang keberanian melampaui batas dan kebebasan untuk berkembang.

Meski belum sepenuhnya memahami sosok Kartini, apa yang mereka lakukan mencerminkan semangat perjuangan tersebut. Mereka melangkah di ruang yang kerap dianggap berat bagi anak-anak, khususnya perempuan.

Sorotan juga tertuju pada Zerina, si bungsu berusia 4 tahun. Di usia belia, ia sudah belajar menghadapi rasa lelah dan tetap melangkah tanpa menyerah. Keberanian yang ditunjukkan bukan karena tanpa rasa takut, tetapi karena ketulusan dalam menjalani proses.

Gunung menjadi ruang belajar yang tak tergantikan. Ia bukan hanya menguji fisik, tetapi juga mengajarkan arti ketekunan dan keberanian untuk terus melangkah, meski tujuan belum terlihat jelas.

Kisah ini pun menjadi refleksi bagi banyak orang dewasa. Di saat sebagian masih ragu melangkah karena takut gagal atau menunggu waktu yang tepat, anak-anak ini justru menunjukkan keberanian untuk memulai.

Momentum Hari Kartini seolah menemukan kembali maknanya melalui langkah sederhana mereka. Bahwa semangat perjuangan tidak selalu hadir dalam kata-kata besar, tetapi juga dalam tindakan nyata.

Pendakian mereka mungkin bukan pencapaian besar yang tercatat secara resmi. Namun, keberanian yang ditunjukkan hari ini berpotensi menjadi fondasi kuat bagi masa depan.

Dari kisah ini, tersirat satu pertanyaan sederhana: apakah kita masih memiliki keberanian untuk melangkah, seperti bocah kecil itu?

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.