Tragedi Apparalang Bulukumba Berujung Maut,Pemerintah Provinsi,Kabupaten dan Kota di Minta Evaluasi Total Standar Keamanan Seluruh Objek Wisata
SINJAI - Pelajar dari Sekolah Menengah Atas Bulukumba, Elmi Febrianti (17), yang jatuh ditebing Apparalang kawasan wisata alam Desa Ara, Kecamatan Bonto Bahari Kabupaten Bulukumba pada Minggu (7/6/2026) sore sekitar pukul 14.30 WITA. Pencarian melibatkan Tim SAR Gabungan, Korban berhasil ditemukan namun telah meninggal dunia pada Senin, (8/6/2026) sekitar pukul 00.10 WITA diperairan lokasi kejadian.
Berdasarkan informasi dilapangan jasad korban ditemukan sejauh kurang lebih 1,5 meter dari titik awal jatuhnya. dititik koordinat lokasi penemuan yaitu 5°31’31.285” LS dan 120°26’51.215” BT.
Kronologi insiden bermula, kala itu pelajar Elmi Febrianti menaiki papan dengan posisi menjorok langsung ke arah laut lepas, sebuah wahana papan swafoto (selfie) yang berada di tebing wisata tersebut. Namun, Ombak besar tiba-tiba menghantam ketika ia sedang fokus mengabadikan momen hingga membuatnya kehilangan keseimbangan dan jatuh tergelincir.
Insiden yang dialami oleh Elmi Febrianti memicu gelombang perhatian publik dan menjadi catatan fatal. Peristiwa ini tentunya terhadap standar kemananan pengelolaan objek wisata, khususnya Apparalang.
Kepatuhan dan ketaatan terhadap aturan berkunjung serta kehati-hatian saat berada di kawasan wisata sebenarnya juga tergantung pada masing-masing orang atau pengunjung sebab risiko perjalanan berwisata kapan saja pastinya terdapat potensi, begitupun di tebing Apparalang.
Meskipun begitu, setiap objek wisata sudah seharusnya memiliki sarana penyelamatan darurat hingga fasilitas pos penjagaan pantai agar dapat meminimalisir kecelakaan yang timbul.
Sebagaimana video amatir yang beredar luas di sosial media, detik-detik siswa SMA 4 Bulukumba berjuang dengan harapan ada keajaiban untuk dapat selamat dari maut, akan tetapi video tersebut memperlihatkan hal yang kontras, dimana nihil alat penyelamat darurat sehingga tidak dapat melakukan penyelamatan maksimal. Bahkan pengakuan pihak pengelola objek wisata Apparalang bahwa tidak ada upaya penyelamatan terstruktur ketika peristiwa itu berlangsung dan hal itu termasuk kelalaian serta kategori proses pembiaran.
Tragedi di Apparalang juga menggambarkan wajah buruk dan lemahnya standar keamanan sebuah objek wisata dan mengajak kita untuk kembali mempertanyakan akan standar keamanan dan keselamatan di semua tempat-tempat wisata yang terdapat di daerah lainnya selain kawasan wisata yang ada di Bonto Bahari.
Pihak terkait atau Pemerintah baik tingkat Provinsi, Kabupaten dan Kota sudah harus mengambil langkah tegas dalam pengelolaan kawasan destinasi alam, dengan memprioritaskan mitigasi kebencanaan dan keselamatan terhadap serta menerapkan regulasi yang ketat yakni mulai dari peningkatan standarisasi dan sertifikasi, pelatihan, posko keselamatan, hingga infrastruktur yang memadai, supaya tidak terulang hal serupa dikemudian hari.
Setiap objek wisata yang dikelola khususnya yang terdapat di daerah Sulawesi Selatan harus memiliki konsep keamanan yang jelas dan memenuhi standar operasional secara nasional. Evaluasi total standar keamanan seluruh tempat-tempat wisata dan terkhusus destinasi alam Apparalang. Insiden ini menjadi pelajaran untuk lebih berhati-hati serta mengingatkan kita bahwa setiap destinasi wisata mengandung risiko serius.
Kita berharap insiden tragis yang menimpa gadis muda Elmi Febrianti menjadi titik balik bagi semua pihak, baik pemerintah provinsi, kabupaten/kota, hingga masyarakat untuk bersama-sama mengevaluasi sistem pengelolaan dan keamanan pengelolaan semua objek wisata di Sulawesi selatan.

Post a Comment