Header Ads

BPL HMI Sinjai Menilai Intelektual Bernalar Kritis Tidak Dilahirkan Dari Generasi Malas Membaca

SINJAI - Membaca buku merupakan sebuah stimulus yang sangat krusial untuk meningkatkan kemampuan berpikir kritis. Kemampuan itu adalah soft skill dan penting dimiliki bagi intelektual muda, Namun ditengah kemajuan teknologi dan digital justru minat membaca sebagian kaum muda menjadi menurun secara signifikan. Ironisnya, WhatsApp, Instagram, dan TikTok justru menjadi bacaan utamanya sehari-hari.

Fenomena ini menjadi kekhawatiran bersama dan masalah sistemik serta berujung pada krisis membaca. (buku fisik). Dampaknya yakni kita akan kehilangan generasi yang bernalar kritis, kreatif, rasional, analisis dan juga berpikir universal.

Kondisi ini, secara sosiologis juga mengancam nalar kritis masyarakat. Dimana kita memiliki kecenderungan mempercayai narasi yang provokatif daripada fakta yang sebenarnya dikarenakan daya berpikir yang tersumbat.

Realitas bercerita dilapangan bahwa budaya membaca kita kian melemah, bergeser dari membaca intensif di buku menjadi membaca scanning atau membaca sekilas di gedget. Kenyataan tersebut merampas kemampuan ingatan dan analisis generasi hari ini.

Minat membaca terus tergerus ditengah penetrasi digital yang masif tanpa adanya upaya alternatif dan inovasi untuk mengembalikan minat baca tersebut. Membaca buku pernah menjadi pondasi pembentukan pola pikir kritis, namun kini berada diambang kemunduran. Radio Republik Indonesia (RRI) dalam salah satu lamannya menyebutkan, UNESCO mencatat indeks minat baca masyarakat Indonesia hanya diangka 0,001% atau dari 1,000 penduduknya, hanya 1 orang yang rajin membaca.

Penurunan budaya membaca salah satunya disebabkan oleh perkembangan teknologi dan anak-anak kita sebagai generasi pelanjut juga tumbuh tanpa kebiasaan membaca dirumah, mereka lebih banyak menghabiskan waktunya di depan layar samrphone dan televisi. 

Di era digital saat ini, budaya membaca generasi muda mengalami transformasi yakni pola konsumsi pengetahuan berubah drastis. Teknologi yang berkembang secara pesat, mereka menjadikan media sosial sebagai tempat untuk berbagi informasi. 

Badan Pengelola Latihan Himpunan Mahasiswa Islam (BPL HMI) Cabang Sinjai, Akbar mengatakan menurunnya budaya membaca di kalangan intelektual muda salah satu penyebabnya adalah kehadiran gawai (gedget).

Demikian dikatakan Akbar, lanjutnya bahwa dampak daripada gadget itu sendiri yakni melemahkan aniomo membaca buku generasi muda. Hal ini juga menggeser hobi seseorang, dari hobi membaca berubah menjadi hobi mengoleksi buku tanpa dibaca.

" Anak muda sekarang lebih banyak menghabiskan waktunya di depan gawai, dimanjakan oleh fitur-fitur yang menarik bahkan setiap hari mereka mengupdatenya, hobinya pun berubah dari senang membaca buku menjadi suka mengoleksi tapi tidak dibaca", Ucap Akbar saat dirinya minum kopi di Warkop, Selasa (9/6/2026)

Menurut Akbar, intelektual bernalar kritis tidak dilahirkan dari generasi yang malas membaca. Seharusnya membaca buku kita jadikan sebagai kebutuhan untuk mempertajam daya pikir kritis guna menjadi generasi intelektual yang memiliki sikap kritis dan peka terhadap persoalan di masyarakat serta dapat memberikan solusi.

Ia menambahkan, minimnya minat baca yang dialami kalangan remaja saat ini, tidak bisa dipungkiri menjadi masalah yang harus dibenahi. Untuk mengatasi masalah ini, kita bisa melakukan hal-hal sederhana seperti mengingatkan diri sendiri betapa pentingnya membaca. Selanjutnya, kita harus membangun budaya membaca dari sekarang.

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.