Rifki adalah Mulan,ilusi dibalik Realitas Semu dan Lunturnya Peran Orang Tua
SINJAI - Rifki adalah Mulan, cerita viral di belantara media sosial (medsos) dan menarik perhatian publik. Ia sosok wanita yang berkamuflase sebagai pria. Sebuah kisah asmara yang dimulai dari realitas semu, Sabtu (11/4/2026)
Realitas Maya adalah ilusi dibalik layar. Disebut juga hiperrealitas, karena konstruksi sosial dan citra yang ditampilkan tidak sepenuhnya mencerminkan kehidupan nyata. Selain itu, editan, atau filter, menciptakan standar hidup atau identitas yang tidak realistis.
Sebelum identitas aslinya diketahuinya, seorang netizen membagikan kisahnya di media sosial yang diunggahnya melalui akun Facebook jumat kemarin (10/4). Rifki digambarkan seorang pria yang berasal dari kota Lampung, di bagian ujung selatan pulau Sumatera.
Ia nekat datang ke Sinjai menemui pujaan hatinya yang bernama Alda di Desa Biji Nangka, Sinjai Borong, Kabupaten Sinjai, Sulawesi Selatan (Sulsel).
Perkenalan keduanya dimulai dari medsos, komunikasinya perlahan mengalir, semakin intens, dan berlanjut istilah lainnya menjalin hubungan Long Distance Relationship (LDR).
Pertemuannya berujung kecewa dikarenakan nominal mahar yang tinggi sebagaimana informasi yang beredar, Rifki pun berencana akan kembali ke kota asalnya.
Kisah asmara ini, kembali mengejutkan semua orang. sebab identitas asli Rifki terungkap. Ternyata ia bukan pria sejati melainkan seorang perempuan bernama Mulan. Fakta baru ini merupakan buah ilusi dibalik layar. Fenomena ini mendorong kita agar lebih waspada dan berhati-hati serta selektif terhadap ruang digital agar pengguna mampun membedakan antara yang semu dan nyata.
Relasi asmara dan ilusi di media sosial kerap dipahami sebagai ruang aman bagi anak muda, namun pada akhirnya, hal itu menyisakan kerugian emosional dan bahkan material. Di era digital yang semakin maju, media sosial telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan anak muda. Terlepas dari sisi positifnya, media sosial juga membawa tantangan serius, terutama bagi perempuan. Seperti halnya dengan kejadian ini.
Media sosial bukanlah cerminan realitas sejati, maka dari itu, kisah Rifki alias Mulan menjadi salah satu indikator bahwa ada banyak anak muda yang terpapar media sosial, yang cenderung membandingkan realitas sehari-harinya dengan kenyataan semu yang ditampilkan di platform oleh ruang digital.
Keberadaan media sosial sekarang ini memiliki pengaruh besar dalam membentuk identitas gender remaja. Kamuflase Mulan telah menggeser teori Sigmun Freud.
Teori Sigmun Freud menyebutkan bahwa dulunya pembentukan identitas lebih berpusat pada orang tua di rumah. Namun seiring waktu media sosial secara signifikansi membentuk identitas anak. Hal tersebut membahayakan para remaja, sebab banyak predator yang memanfaatkan situasi dan keadaan ini.
Di era digital saat ini, media sosial telah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari, termasuk bagi anak-anak dan remaja. Harus menjadi perhatian serius bagi banyak orang tua. Meskipun memiliki manfaat, media sosial tanpa pengawasan, dapat membawa dampak masalah.
Sebagai informasi tambahan, yang bersangkutan sudah dibawa dan diamankan di Kantor Polsek Sinjai Borong, Kabupaten Sinjai. Semoga kejadian ini adalah yang terakhir dan tidak terulang kembali.

Post a Comment