Header Ads

OPINI: Wajah Sinjai dan Tantangan Kesadaran Lingkungan di Sekitar Kita

Sebagai mahasiswa yang tinggal dan beraktivitas di Kabupaten Sinjai, saya sering memperhatikan satu hal sederhana yang sebenarnya memiliki dampak besar: kondisi lingkungan di sekitar kita. 


Dari jalanan, pasar, hingga area publik lainnya, persoalan sampah masih menjadi pemandangan yang belum sepenuhnya bisa dihindari.


Di beberapa titik, terutama setelah aktivitas pasar atau keramaian, sampah kerap terlihat menumpuk sebelum akhirnya dibersihkan. 


Meskipun petugas kebersihan sudah bekerja keras setiap hari, jumlah sampah yang terus bertambah sering kali membuat kondisi lingkungan belum sepenuhnya terjaga dengan baik.


Hal ini menunjukkan bahwa persoalan lingkungan bukan hanya soal kebersihan semata, tetapi juga tentang kesadaran bersama. 


Sebab, sebersih apa pun suatu tempat dibersihkan, jika kebiasaan membuang sampah sembarangan masih terjadi, maka masalah yang sama akan terus berulang.


Menariknya, dalam beberapa program pendidikan dan lingkungan di Indonesia, mulai muncul peran yang disebut sebagai duta lingkungan. 


Duta lingkungan merupakan individu atau kelompok yang diberi tanggung jawab untuk mengedukasi, mengajak, dan menggerakkan masyarakat agar lebih peduli terhadap lingkungan. 


Bahkan dalam praktiknya, duta lingkungan tidak hanya belajar teori, tetapi juga aktif melakukan kampanye kebersihan, mengajak masyarakat memilah sampah, hingga menjadi contoh langsung dalam menjaga lingkungan. 


Program seperti ini menunjukkan bahwa perubahan kesadaran tidak selalu harus dimulai dari kebijakan besar, tetapi bisa dimulai dari individu yang menjadi penggerak di lingkungan sekitarnya.


Di sisi lain, saya juga melihat adanya perubahan positif di tengah masyarakat Sinjai. 


Mulai muncul kesadaran dari sebagian warga untuk menjaga kebersihan lingkungan, baik melalui kegiatan gotong royong maupun inisiatif kecil seperti menyediakan tempat sampah di sekitar rumah atau tempat usaha. 


Meskipun belum merata, hal ini menjadi tanda bahwa kepedulian itu mulai tumbuh.


Sebagai mahasiswa, saya merasa bahwa peran seperti duta lingkungan ini sebenarnya bisa hadir di mana saja, termasuk di lingkungan kampus dan masyarakat. 


Tidak harus melalui program resmi, tetapi melalui tindakan nyata yang konsisten. 


Hal sederhana seperti tidak membuang sampah sembarangan, mengajak teman untuk peduli, hingga memberikan contoh yang baik sudah menjadi bagian dari edukasi lingkungan itu sendiri.


Selain itu, edukasi tentang pentingnya menjaga lingkungan juga perlu terus dilakukan. 


Tidak semua orang memiliki pemahaman yang sama tentang dampak sampah terhadap kesehatan dan lingkungan. 


Ketika kesadaran itu tumbuh, maka perubahan perilaku akan mengikuti.

Pemerintah daerah tentu memiliki peran penting dalam menyediakan fasilitas dan sistem pengelolaan sampah yang baik. 


Namun, upaya tersebut tidak akan maksimal tanpa dukungan dari masyarakat. Lingkungan yang bersih bukan hanya tanggung jawab satu pihak, tetapi tanggung jawab bersama.


Bagi saya, menjaga kebersihan lingkungan adalah bentuk kepedulian terhadap tempat kita hidup. 


Sinjai bukan hanya sekadar tempat tinggal, tetapi juga ruang bersama yang harus dijaga agar tetap nyaman dan layak untuk semua.


Pada akhirnya, perubahan tidak selalu harus dimulai dari hal besar. Justru dari hal-hal kecil yang dilakukan secara konsisten, kita bisa melihat perbedaan nyata. 


Jika kesadaran itu terus tumbuh baik melalui peran individu maupun gerakan seperti duta lingkungan maka bukan tidak mungkin Sinjai akan menjadi daerah yang tidak hanya indah, tetapi juga bersih dan nyaman untuk ditinggali.


Penulis: Hifzatul Azizah

(Mahasiswa Prodi KPI UIAD Sinjai Semester VI)

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.