Opini: Etika Bermedia Sosial dalam Perspektif Islam di Era Digital
Di era digital sekarang, cara orang berinteraksi sudah banyak berubah, terutama lewat media sosial. Banyak orang cenderung menampilkan sisi terbaik dari hidupnya supaya terlihat menarik dan mendapat pengakuan dari orang lain.
Tapi di balik itu, sering muncul sikap pamer (riya’), berlebihan dalam menunjukkan sesuatu, bahkan kadang menyebarkan informasi yang belum jelas kebenarannya.
Hal seperti ini sebenarnya cukup mengkhawatirkan, apalagi kalau dilihat dari sudut pandang nilai-nilai Islam.
Dalam Islam, setiap ucapan dan tindakan itu ada pertanggungjawabannya. Konsep seperti qaulan sadida (berkata benar) dan larangan riya’ sudah jelas diajarkan.
Artinya, ketika kita menggunakan media sosial, seharusnya tidak asal posting atau berbicara tanpa mempertimbangkan dampaknya.
Apalagi kalau sampai menyebarkan hoaks atau membuat orang lain merasa rendah karena konten yang kita tampilkan.
Menurut saya, masalah ini bukan cuma soal teknologi, tapi lebih ke bagaimana kita mengontrol diri.
Media sosial sebenarnya bisa jadi sarana dakwah dan menyebarkan hal-hal positif, tapi kalau tidak dibarengi dengan kesadaran nilai agama, justru bisa membawa kita pada hal yang bertentangan dengan ajaran Islam.
Jadi, penting bagi kita sebagai mahasiswa apalagi yang punya dasar keilmuan untuk lebih bijak dalam bermedia sosial.
Bukan cuma aktif, tapi juga sadar etika dan nilai. Karena pada akhirnya, yang dinilai bukan hanya seberapa menarik postingan kita, tapi juga seberapa bertanggung jawab kita dalam menggunakannya sesuai dengan ajaran Islam.
Penulis: Asmawati (Mahasiswa UIAD Sinjai)

Post a Comment