Header Ads

Iran Tutup Selat Hormuz, Apa Dampaknya Bagi Indonesia?


Selat Hormuz salah satu jalur vital energi dan perdagangan dunia ditutup sepenuhnya oleh Iran pascaserangan gabungan Amerika Serikat dan Israel. Hormuz menjadi salah satu titik paling krusial dalam rantai pasok energi dunia. Penutupan ini mengganggu distribusi minyak dan gas dunia. 


Lebih dari 20 persen ekspor minyak dan gas alam cair global melintasi jalur ini, terutama dari Iran, Irak, Kuwait, Qatar, dan Uni Emirat Arab menuju negara-negara Asia seperti China, India, Jepang, serta Korea Selatan.


Selat Hormuz membentang sekitar 990 kilometer dengan lebar 55 hingga 340 kilometer dan terletak di antara Oman dan Iran, menghubungkan Teluk Persia dengan Teluk Oman serta Laut Arab, (berdasarkan Encyclopaedia Britannica).


Mulai tanggal 1 Maret 2026, setelah Iran resmi menutup selat Hormuz, kapal sudah tidak bisa melewatinya bahkan tidak ada satu pun kapal yang diberi izin untuk melintasi selat tersebut. Berdasarkan dokumentasi Soar Earth, informasi Citra satelit pelacak kapal menunjukkan armada menumpuk di dekat pelabuhan besar seperti Fujairah, Uni Emirat Arab, tanpa melintasi selat Hormuz.



Lantas, apa dampaknya dengan jalur minyak dunia dengan negara Indonesia dan seberapa besar dampaknya ?. 


Penting untuk diketahui, Selat Hormuz sebagai jalur minyak dunia, jika selat ini ditutup akan jadi masalah besar bagi negara penghasil minyak dan juga negara yang membutuhkannya termasuk Indonesia. Penutupan jalur minyak ini dampaknya langsung terasa di pasar energi, harga minyak mentah Brent melonjak tajam dalam satu hari perdagangan. Analis memperkirakan harga bisa mendekati 100 dollar AS per barrel jika gangguan berlangsung lama.


Sementara itu, dampaknya bagi Indonesia, Perekonomian nasional tetap terhubung erat dengan rantai pasok global meskipun Indonesia bukan negara teluk dan hal ini tidak boleh disepelekan. inilah potensi dampak yang akan dirasakan oleh negara Indonesia, antara lain, harga minyak dan BBM berpotensi naik, biaya logistik dan asuransi melonjak dan risiko inflasi jelang Ramadhan dan Lebaran serta tekanan pada cadangan devisa dan nilai tukar.


Selain itu, akibat penutupan Selat Hormuz menjadi sinyal ancaman bagi ketahanan energi Indonesia terhadap krisis global. Krisis ini menegaskan pentingnya percepatan transisi energi dan diversifikasi sumber pasokan. Pemerintah Indonesia perlu memperkuat cadangan energi strategis nasional, mengembangkan energi baru terbarukan (EBT), dan menjalin kerja sama energi dengan negara-negara di luar kawasan Timur Tengah.


Dari informasi yang disampaikan oleh Menteri ESDM Bahlil Lahadalia bahwa cadangan bahan bakar minyak (BBM) nasional hanya cukup untuk 20 hari saja. Ia memastikan, tidak ada masalah terkait subsidi BBM dalam negeri terkait konflik yang terjadi di Timur Tengah. Namun, ia menambahkan, ada kemungkinan terjadi koreksi terhadap harga minyak dunia imbas konflik Timur Tengah tersebut.


Bahlil Lahadalia menyampaikan keterangan persnya usai rapat bersama Dewan Energi Nasional di Kementerian ESDM, Jakarta, (03/03/2026) kemarin terkait antisipasi dampak penutupan Selat Hormuz akan mengalihkan sebagian sumber impor minyak mentah ke kawasan lain.


Selat Hormuz salah satu jalur vital energi dan perdagangan dunia ditutup sepenuhnya oleh Iran pascaserangan gabungan Amerika Serikat dan Israel. Hormuz menjadi salah satu titik paling krusial dalam rantai pasok energi dunia. Penutupan ini mengganggu distribusi minyak dan gas dunia. 


Lebih dari 20 persen ekspor minyak dan gas alam cair global melintasi jalur ini, terutama dari Iran, Irak, Kuwait, Qatar, dan Uni Emirat Arab menuju negara-negara Asia seperti China, India, Jepang, serta Korea Selatan.


Selat Hormuz membentang sekitar 990 kilometer dengan lebar 55 hingga 340 kilometer dan terletak di antara Oman dan Iran, menghubungkan Teluk Persia dengan Teluk Oman serta Laut Arab, (berdasarkan Encyclopaedia Britannica).


Mulai tanggal 1 Maret 2026, setelah Iran resmi menutup selat Hormuz, kapal sudah tidak bisa melewatinya bahkan tidak ada satu pun kapal yang diberi izin untuk melintasi selat tersebut. Berdasarkan dokumentasi Soar Earth, informasi Citra satelit pelacak kapal menunjukkan armada menumpuk di dekat pelabuhan besar seperti Fujairah, Uni Emirat Arab, tanpa melintasi selat Hormuz.



Lantas, apa dampaknya dengan jalur minyak dunia dengan negara Indonesia dan seberapa besar dampaknya ?. 


Penting untuk diketahui, Selat Hormuz sebagai jalur minyak dunia, jika selat ini ditutup akan jadi masalah besar bagi negara penghasil minyak dan juga negara yang membutuhkannya termasuk Indonesia. Penutupan jalur minyak ini dampaknya langsung terasa di pasar energi, harga minyak mentah Brent melonjak tajam dalam satu hari perdagangan. Analis memperkirakan harga bisa mendekati 100 dollar AS per barrel jika gangguan berlangsung lama.


Sementara itu, dampaknya bagi Indonesia, Perekonomian nasional tetap terhubung erat dengan rantai pasok global meskipun Indonesia bukan negara teluk dan hal ini tidak boleh disepelekan. inilah potensi dampak yang akan dirasakan oleh negara Indonesia, antara lain, harga minyak dan BBM berpotensi naik, biaya logistik dan asuransi melonjak dan risiko inflasi jelang Ramadhan dan Lebaran serta tekanan pada cadangan devisa dan nilai tukar.


Selain itu, akibat penutupan Selat Hormuz menjadi sinyal ancaman bagi ketahanan energi Indonesia terhadap krisis global. Krisis ini menegaskan pentingnya percepatan transisi energi dan diversifikasi sumber pasokan. Pemerintah Indonesia perlu memperkuat cadangan energi strategis nasional, mengembangkan energi baru terbarukan (EBT), dan menjalin kerja sama energi dengan negara-negara di luar kawasan Timur Tengah.


Dari informasi yang disampaikan oleh Menteri ESDM Bahlil Lahadalia bahwa cadangan bahan bakar minyak (BBM) nasional hanya cukup untuk 20 hari saja. Ia memastikan, tidak ada masalah terkait subsidi BBM dalam negeri terkait konflik yang terjadi di Timur Tengah. Namun, ia menambahkan, ada kemungkinan terjadi koreksi terhadap harga minyak dunia imbas konflik Timur Tengah tersebut.


Bahlil Lahadalia menyampaikan keterangan persnya usai rapat bersama Dewan Energi Nasional di Kementerian ESDM, Jakarta, (03/03/2026) kemarin terkait antisipasi dampak penutupan Selat Hormuz akan mengalihkan sebagian sumber impor minyak mentah ke kawasan lain.(Siraj)

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.